Situbondo, 29 Juni 2025 – GKJW Jemaat Situbondo menjadi tuan rumah kegiatan Pelatihan Sound System yang diselenggarakan pada hari Minggu, 29 Juni 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi operator sound system jemaat-jemaat dalam mendukung pelayanan ibadah yang berkualitas.

Acara dibuka dengan doa pembukaan, diikuti oleh sambutan dari Ketua PHMJ Jemaat Situbondo, Pdt. Suciptoadi. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa syukur atas kehadiran para peserta dari berbagai jemaat. “Kami menyambut saudara-saudara dengan penuh syukur dan sukacita. Kegiatan pelatihan sound system ini sangat penting karena merupakan pendukung kelancaran dan kesuksesan ibadah maupun kegiatan di jemaat. Kami berharap pelatihan ini diikuti dengan baik dan diserap, sehingga membawa perubahan di jemaat masing-masing. Segala sarana dan prasarana ibadah kiranya dijaga dengan baik,” tegasnya.
Sambutan juga disampaikan oleh Ketua Pokja IT Daerah, yang menyampaikan apresiasi atas keterlibatan peserta dan kesiapan Jemaat Situbondo sebagai tuan rumah. “Pelatihan ini sangat penting untuk pelayanan di gereja. Dengan sistem sound yang baik, jemaat akan merasakan kenyaman dan kekusukan dalam beribadah. Melalui kegiatan ini kita dapat saling belajar dan saling membangun”.

Sesi pelatihan disampaikan oleh Bapak Apsee selaku narasumber teknis, yang menggarisbawahi bahwa untuk menghasilkan suara yang baik dibutuhkan sinergi antara berbagai faktor, yaitu: Perangkat audio, Sistem kelistrikan, Sumber daya manusia, Penggunanya.
Bapak Apsee juga memberikan tips penting mengenai perawatan mixer, yaitu dengan mengembalikan semua level fader ke posisi nol setelah kegiatan dan datang lebih awal untuk melakukan pengaturan suara sebelum ibadah dimulai. Ia juga menjelaskan komponen-komponen mixer serta menekankan pentingnya membersihkan peralatan dengan cairan cleanser secara berkala.

Pelatihan ini menjadi sangat interaktif dengan hadirnya pertanyaan dari beberapa jemaat, antara lain:
Jemaat Bondowoso menyampaikan bahwa mereka hanya mengatur fader dan tidak pernah menyentuh gain. Bapak Apsee menjawab bahwa urutan penyalaan alat juga penting: nyalakan speaker terlebih dahulu, lalu alat musik, terakhir mixer, dan saat selesai, matikan dalam urutan terbalik.
Jemaat Jember menyampaikan bahwa karena banyaknya mixer yang digunakan sehingga dibutuhkan banyak effort. Bapak Apsee menyarankan bahwa penggunaan lebih dari satu mixer bisa dilakukan, asalkan ada operator khusus yang menangani, serta menyarankan penggunaan grouping pada mixer untuk memudahkan kontrol.
Jemaat Sidorejo bertanya tentang kendala suara yang bergema di ruang gereja terbuka. Dijelaskan bahwa kondisi tersebut bisa diatasi dengan pemasangan peredam akustik serta perhatian khusus terhadap desain dan material ruangan.
Sdr. Frans mengingatkan bahwa setiap jemaat sebaiknya memiliki blueprint jalur audio agar ketika operator berhalangan, ada pengganti yang memahami sistem yang ada.

Bapak Apsee juga menambahkan pentingnya penempatan operator dan mixer di bagian belakang ruang ibadah, karena posisi tersebut memungkinkan kontrol suara yang optimal mengingat speaker menghadap ke arah jemaat. Ia juga merekomendasikan penggunaan power conditioner bila anggaran memungkinkan, untuk menjaga kestabilan dan perlindungan perangkat dari gangguan listrik.
Sebagai penutup, seluruh peserta diminta untuk membuat dan mempresentasikan blueprint sistem sound masing-masing jemaat di hadapan peserta lain. Hal ini menjadi bentuk komitmen bersama dalam mengimplementasikan hasil pelatihan di lingkungan pelayanan masing-masing.
Kegiatan pelatihan ini diakhiri dengan doa penutup, mengucap syukur atas kelancaran acara dan memohon berkat agar hasil pelatihan membawa manfaat besar bagi setiap jemaat.