Pada Minggu, 10 November 2024, GKJW Jemaat Rejoagung mengadakan ibadah spesial Hari Raya Persembahan (Unduh-unduh) Ke-2 Tahun 2024, yang dimulai pukul 08.00 WIB dengan nuansa adat jawa dan mengambil tema “Pisungsung Suci Tanda Katresnanku Dhumateng Gusti”, ibadah ini diadakan untuk menegaskan komitmen iman jemaat kepada Tuhan melalui ungkapan rasa syukur dan kasih. Kata “pisungsung” berasal dari bahasa Jawa, yang berarti persembahan atau pemberian yang disucikan, sebagai tanda cinta kita kepada Tuhan. Tema ini berusaha mendorong jemaat untuk memberikan yang terbaik sebagai ungkapan kasih kepada Tuhan, mengingatkan bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah pemberian Tuhan.
Pada kesempatan ini, Ibu Pendeta Rena Kartikaningrum menyampaikan kotbah dengan merujuk pada Mazmur 136:1-10. Bacaan ini berbicara tentang kasih setia Tuhan yang kekal dan kebesaran-Nya dalam menyertai serta melindungi umat-Nya. Mazmur 136 secara khusus mengingatkan umat untuk mengucap syukur kepada Tuhan, yang telah menciptakan dunia dan menyelamatkan Israel dari perbudakan. Dengan latar belakang mazmur pujian ini, Pendeta Rena mengajak jemaat untuk merefleksikan bagaimana Tuhan telah setia dalam hidup setiap umat-Nya.
Persembahan dalam kekristenan bukan sekadar kewajiban, melainkan sebuah tindakan iman yang tulus. Pendeta Rena mengingatkan bahwa persembahan kita, baik dalam bentuk materi, tenaga, atau waktu, mencerminkan sikap hati kita. Tema “Pisungsung Suci Tanda Katresnanku Dhumateng Gusti” mengajak jemaat untuk memberikan persembahan dengan hati yang suci, penuh ketulusan, dan rasa syukur. Kita dipanggil untuk memberikan sesuatu yang murni, sebagai tanda kasih kita kepada Tuhan yang telah memberikan segalanya bagi kita.
Melalui kisah-kisah dalam Mazmur 136, Pendeta Rena juga mengajak jemaat untuk mengingat bahwa persembahan yang kita berikan pada dasarnya merupakan tanda kasih kita kepada Tuhan, yang telah lebih dulu mengasihi kita dengan kasih yang tak terbatas. Ketika kita menyadari betapa besar kasih Tuhan, maka persembahan kita kepada-Nya akan menjadi tindakan sukarela yang penuh kegembiraan, bukan lagi sesuatu yang terpaksa.
Mazmur 136 adalah serangkaian ucapan syukur yang secara khusus menekankan kasih setia Tuhan yang kekal. Setiap ayat diakhiri dengan frase “bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya,” yang menggarisbawahi sifat Tuhan yang tidak pernah berubah dan selalu setia. Pendeta Rena menjelaskan bahwa kasih setia ini terwujud dalam perbuatan-perbuatan besar Tuhan, termasuk dalam penciptaan dunia, penyelamatan Israel dari Mesir, dan penyertaan-Nya dalam perjalanan mereka di padang gurun.
Pendeta Rena menghubungkan bacaan ini dengan kehidupan jemaat di masa sekarang, mengajak mereka untuk merenungkan perbuatan Tuhan dalam kehidupan mereka masing-masing. Setiap berkat, baik kecil maupun besar, adalah bukti nyata dari kasih Tuhan. Maka, Hari Raya Persembahan menjadi momen yang tepat untuk menyampaikan rasa syukur melalui persembahan yang kita berikan dengan sukacita.
Pada ibadah Hari Raya Persembahan ini, jemaat tidak hanya hadir secara fisik tetapi juga merasakan kebersamaan dalam iman. Persembahan yang diberikan secara bersama-sama mencerminkan kesatuan jemaat dalam mengucap syukur. Pendeta Rena mengajak jemaat untuk mengingat bahwa mereka adalah satu tubuh di dalam Kristus, dan setiap persembahan yang mereka berikan adalah bentuk kontribusi untuk membangun tubuh Kristus. Persembahan yang dikumpulkan pada hari itu akan digunakan untuk mendukung pelayanan gereja, mendukung program kegiatan yang dilakukan GKJW Jemaat Rejoagung.
Hari Raya Persembahan di GKJW Jemaat Rejoagung ini menjadi momen penting bagi jemaat untuk menyadari bahwa rasa syukur seharusnya tidak terbatas hanya pada hari-hari tertentu. Pendeta Rena mengingatkan jemaat bahwa rasa syukur perlu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Persembahan bukan hanya dilakukan pada hari tertentu, melainkan dalam setiap tindakan kasih, pengorbanan, dan perhatian kepada orang lain.
Tema “Pisungsung Suci Tanda Katresnanku Dhumateng Gusti” juga mengingatkan bahwa setiap hari adalah kesempatan bagi kita untuk mengungkapkan kasih kita kepada Tuhan, baik melalui persembahan, pujian, maupun tindakan nyata dalam kehidupan kita. Dengan cara ini, hidup kita menjadi persembahan yang hidup, yang memuliakan Tuhan setiap saat.
Persembahan dalam konteks Hari Raya Persembahan ini memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar memberikan sesuatu. Melalui tema “Pisungsung Suci Tanda Katresnanku Dhumateng Gusti,” Pendeta Rena mengajak jemaat untuk merenungkan bahwa persembahan kita adalah bentuk respons atas kasih Tuhan yang kekal. Ibadah Hari Raya Persembahan menjadi saat bagi jemaat untuk merenungkan kebaikan Tuhan, mengucap syukur, dan mengekspresikan kasih mereka dengan tulus.
Sebagai penutup, Pendeta Rena mengingatkan jemaat bahwa setiap persembahan yang diberikan dengan tulus akan menjadi harum di hadapan Tuhan. Ketika kita memberi dengan hati yang suci, maka persembahan kita akan menjadi pisungsung yang diterima oleh Tuhan sebagai tanda kasih kita kepada-Nya.